Life Love and Peace 

Senin, 17 Januari 2011

Cerper : Sebuah Kisah Cinta


Hujan lebat baru saja berhenti sesaat lalu menyisakan banyak jejaknya di trotoar , kaca-kaca mobil yang terparkir , dan tiang-tiang lampu temaran di sepanjang jalan beraspal malam itu. Hembusan angin dingin malam yang semakin larut menambah rasa cekam itu. Seolah-olah mengajak semua makhluk yang ada disekitarnya untuk tidur sejenak. Hiruk piruk jalanan beraspal itu di siang hari sangatlah berlawanan dengan rasa lenggang yang kini ada.

Di sudut jalan tampak seekor anjing jalanan. Ya, anjing liar itu sedang berjalan dalam kesunyian. Ia mempercepat langkahnya hendak menyeberangi jalan. Aroma sisa makanan dari tumpukan sampahtercium jelas oleh hidungnya yang sangat peka, menggoda perutnya yang telah keroncongan belum terisi sejak siang tadi.

Kaki-kaki kecilnya yang cekatan tinggal selangkah lagi menuju seberang jalan ketika tampaklah sebuah mobil sedan silver keluaran mutakhirmeluncur cepat di jalan itu. Seorang wanita muda tampaknya tergesa-gesa pula hendak melintasi jalanan itu. Namun, ketika tampak olehnya bayangan kelebat si anjing liar itu di tengah jalan, segera ia membanting setir di dalam genggamannya dan menekan rem sedalam mungkin untuk menghidari tubuh si anjing liar itu. Ban mobil menderik keras, “kriiikkkk…”, lalu disusul suara “braaakkkk..” Serpihan kaca jendela mobil bertebangan bagai bintang-bintang, berkilau di tengah malam. “Duuummmm…, kraakkk…” pintu samping mobil menghantam tiang lampu di samping trotoar lalu jatuh menimpa mobil sedan silver itu. Wanita dalam mobil itu diam tak bergerak. Kepalanya tertelungkup di atas setir berbingkai silver, kaku. Cipratan darah merebak ke segala penjuru memenuhi tempat duduk di sekitar kemudi mobil.

Semua terjadi seketika dalam hitungan detik. Anjing jalanan yang berhasil menjejakkan kakinya di samping trotor hanya dapat menatap tak berdaya. Sesaat, terpaku melihat semua itu. Dinginnya malam menghentakkan dirinya untuk kembali melangkah ke arah aroma sisa makanan yang terbuang di tong sampah besar itu.

******

Jane kecil sedari tadi sudah gelisah. Matanya mengawasi pintu depan rumah dengan wajah tampak murung. Bola matanya tampak gelisah dan lelah bercampur rasa kantuk.

“Papa… ,kapan ibu tiba?” suaranya lirih menatap wajah papanya.

“Sabarlah sayang, ibumu sedang dalam perjalanan saat ini!” kata sang papa. Ia teringat akan percakapannya di telepon sejam yang lalu.

“Sabar, sayang, operasinya sudah selesai, saya akan pulang ke rumah sekarang! Jangan potong kuenya dulu, tunggu saya datang!” suara istrinya jelas terdengar dari seberang telepon.

“Baiklah bu dokter cantik, kami tunggu ya!” suara sang papa menggoda istrinya.

“Ok, I love you honey and happy birthday, mmuahh,” balas istrinya ceria dari seberang.

Tapi kini sudah dua jam berlalu, sang istri terkasih yang ditunggu-tunggu pun belum tiba.

“Kriiinggg… kringggg…, suara telepon berdering.

“Halo ? Siapa? Apa? Dimana sekarang?” sang papa hanya sempat mengucapkan kata-kata tersebut, lalu berdiri lunglai.

“Kenapa papa? Itu tadi siapa? Papa…. Papa… papa…!” Penasaran Jane kecil mengoyang-goyangkan tangan papanya.

“Jane sayang, ayo kita segera ke rumah sakit. Ibumu ada di sana menunggu kita , sayang!” kini berkilauan air merebak dari kelopak mata sang papa yang mulai memerah.

“Oh sayangku, kami akan segera datang!”berharap cemas hati sang papa , sambil menarik tangan Jane kecil melangkah ke luar rumah.

“Oh sayangku, tunggulah aku, tetaplah bernafas, aku akan segera datanggg!” kini harap cemas itu semakin serak menggema di tengah malam yang kian dingin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar